Jurus Kemenristek Dikti Perkuat Karakter Akademisi

Bagikan ke:

JAKARTA, LenteraEdukasi.com — Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi memiliki kiat untuk membangun tenaga pendidik yang berkarakter dan berintegritas tinggi. Acuan kode etik bagi tenaga pendidik perlu diperkuat, sehingga mereka dan mahasiswa memiliki pendidikan moral yang baik.

Direktur Jenderal Sumber Daya Ilmu Pengetahuan dan Pendidikan Tinggi Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi Ali Ghufron Mukti menjelaskan, tenaga pendidik dan akademisi harus memegang norma teguh dalam menjalankan perannya sebagai pengajar. Menurut Ali, akademisi harus bekerja cerdas, bekerja keras, dan bekerja tuntas.

“Kita ingin ada semacam professional behaviour, perilaku profesional dari seorang dosen. Sehingga ada code of conduct yang dipegang para dosen. Agar mereka memiliki moral yang bagus,” tegasnya di Gedung Kemenristek, Selasa (4/4/2017).

Pendidikan karakter bagi para akademisi, kata Ali, mengacu pada rencana strategis Kemenristek Dikti tahun 2015-2019. Menurutnya, ada empat hal yang wajib dimiliki kampus.

“Perguruan tinggi harus jadi Agent of Education sebagai pendidik, Agent of Research, Agent of Culture dan, Agent of Development untuk membangun karakter. Tak hanya dosen tapi juga karakter mahasiswa,” katanya.

Sehingga, lanjut Ali, hal ini menjadi satu kesatuan untuk membangun karakter, kejujuran, integritas, kerja keras, dan kepekaan sosial. Ali mengakui dari hasil evaluasi harapan ini belum terwujud optimal.

“Ini belum lama diterapkan kan. Ini sekarang sudah diterapkan. Cuma memang masih ada beberapa kasus juga yang terjadi pada akademisi seperti ada Wakil Rektor yang tertangkap narkoba dan lainnya. Ini harus kita bangun karakternya,” tegasnya.

Ali mengungkapkan wujud nyatanya dengan cara memberikan penghargaan kepada para dosen teladan untuk memacu semangat akademisi lainnya. Secara tak langsung karakter dosen dibangun untuk menjadi contoh teladan bagi mahasiswa.

“Misalnya kami berikan semacam penghargaan kepada dosen jadi semacam dosen teladan. Di Hardiknas ini kita pilih juga dosen-dosen yang punya moral bagus tapi produktivitasnya bagus. Atau apakah masuk dengan kurikulum sendiri atau pendekatannya menyatu dengan yang lain,” jelas Ali. (jawapos.com)

Bagikan ke:

Komentar

komentar

Related posts

Leave a Comment