Asumsi Guru yang Salah Kaprah dalam Menilai Naradidik

Bagikan ke:

LenteraEdukasi.com — Dewasa ini kita sebagai guru atau orang tua lebih sering memperhatikan nilai anak di sekolah, sampai lupa melihat perkembangan riil mereka. Kita sering kali menuntut mereka mencapai nilai-nilai tertentu. Memberinya batas-batas yang harus dilampaui, seolah angka-angka itu adalah tujuan mereka di sekolah.

Sekolah sebagai tempat menuntut ilmu sudah sering hanya menjadi slogan semata. Teknisnya, para siswa lebih sering mengejar nilainya daripada memelihara rasa ingin tahunya terhadap pengetahuan yang akan mereka dapatkan. Setidaknya, ada dua kesalahan besar kita dalam melakukan penilaian.

Kesalahan fatal pertama adalah “Untuk siapa penilaian itu”. Saya berikan analogi awal. Jika anda menilai sebuah perhiasan mewah, untuk siapa penilaian itu anda lakukan? Apakah penilaian itu bermanfaat bagai Si perhiasan ataukah penilaian itu untuk anda, supaya anda mengetahui seberapa banyak uang yang pantas anda keluarkan untuknya. Paham kan maksud saya?

Sekarang coba ingat. Di sekolah, alih-alih menganggap penilaian yang kita lakukan itu untuk kita sendiri, kita malah sering kali melekatkan bahwa penilaian itu adalah milik siswa. Mereka yang harus mengejarnya, mereka yang harus berusaha mendapatkan nilai tertinggi, sampai mereka lah yang harus melampaui batas kriteria ketuntasan minimal (kkm) yang kita tentukan. Lebih sering lagi penilaian itu untuk membuat diskriminasi bagi mereka yang gagal.

Dampak dari kesalahan kita memperlakukan penilaian semacam itu sungguh besar. Karena anggapan nilai adalah milik siswa, kita cenderung lupa untuk memperbaiki cara pengajaran kita, dan lebih memilih menyalahkan mereka atas nilai menjijikkannya. Kita sering menyuruh mereka brusaha lebih giat untuk memperbaiki nilainya, sedang kita malah berpangku tangan.

Kita cenderung memberikan pengajaran smart, fastest sampai king solution, daripada mengajarkan mereka pengetahuan luar biasa yang bisa mereka pelajari. Lebih lanjut, kita tanpa sadar membiasakan mereka untuk mementingkan nilai yang mereka dapat daripada apa yang telah mereka pelajari. Jadi, ya jangan salahkan jika mereka sampai melakukan hal curang seperti menyontek atau melihat kunci jawaban ketika ujian.

Ingat, sekolah bukanlah pasar saham yang setiap saat berkutat dengan angka-angka. Penilaian yang kita lakukan seharusnya adalah untuk kita (guru dan orang tua) guna melihat seberapa berhasilkah kita mendidik mereka, dan mencari solusi atas kegagalan yang mungkin telah kita lakukan. Kitalah yang paling bertanggung jawab atas nilai merah mereka, dan mendapat “cambukan” yang sepantasnya.

Assessment is like a mirror. Kita bercermin bukan untuk melihat seberapa mahal cermin itu, tapi untuk melihat seberapa pantas kita berdiri di depannya.

Kesalahan fatal kedua adalah “bagaimana menilai itu”. Mengenai bagaimana kita harusnya menilai, saya menjadi teringat seorang guru senior pernah dengan semangat berkata pada sebuah forum bahwa dia melakukan penilaian yang sangat objektif.

Dia bangga memberikan nilai apa adanya terhadap siswa-siswanya. Hasil penilaiannya diambil dari segala macam instrumen yang dia rancang dengan detail dan sempurna. Jujur, saat itu saya ingin sekali untuk membantah omongan ngawur yang gagah itu. Tapi saya memilih untuk tidak berdebat di forum tersebut.

Menilai jelas berbeda dengan scoring (menskor). Apa yang dilakukan teman saya adalah contoh yang baik  dalam menskor. Instrument dan prinsip yang digunakan memang tepat untuk melakukanscoring, tapi tidak sampai pada penilaian. Menilai lebih dari membubuhkan angka-angka yang didapatkan dalam penngukuran.

Jelas, manusia bukanlah mesin. Apa yang dilakukan teman saya terhadap siswanya, menurut saya sungguh tidak manusiawi. Ia tak lebih hanya mengcopykan skor dari pengukuran yang dia dapat menjadi nilai-nilai yang seharusnya mencerminkan kemampuan siswa.

Penilaian adalah pengambilan keputusan berdasarkan pengukuran, kemudian memberikan estimasi dan pertimbangan terhadapnya, baik tes atau nontes. Dengan begitu, apakah guru itu boleh ngarang biji (nilai), dalam arti memberi pertimbangan subjektifnya dalam proses penilaian? Menurut saya wajib malah.

Pertimbangan subjektif seorang guru dalam mengenal siswanya lah yang membedakan ia dengan seperangkat mesis scanner yang biasanya digunakan dalam scoring. Karena menilai tidak sekedar melakukan pengukuran.

Lebih mudahnya saya analogikan begini. Ketika anda hendak membeli jeruk di pasar maka tentu pertama yang anda lakukan adalah melakukan penngukuran, mulai dari mengukur/menimbang beratnya, melihat permukaan kulitnya, sampai melihat kecerahan warnanya. Semua ini anda lakukan sebagai upaya untuk mengetahui tingkat kemanisan jeruk tersebut.

Hasil pengukuran itu cenderung berupa angka-angka atau kuantitatif. Inilah yang disebut skor dari proses scoring (pengukuran). Apakah karena data tersebut anda memutuskan untuk jadi membeli jeruk? Tentu tidak. Anda perlu menilai apakah jeruk itu layak anda bawa pulang atau tidak, dengan memperhatikan banyak pertimbangan subjektif anda

Anda perlu menilai apakah anda sedang menginkan jeruk yang manis atau yang sedikit masam. Kondisi cuaca bisa mempengaruhi mana jeruk yang anda akan bawa pulang. Tentunya dicuaca yang panas anda lebih memilih jeruk yang sedikit masam dengan harapan kandungan vitamin c yang lebih. Pertimbangan anda itulah yang menentukan jeruk yang mana yang akan anda beli sesuai kebutuhan anda. Seperti itulah menilai itu.

Guru Itu manusia yang dibekali segala macam instrumen handal untuk menilai, yaitu panca indra plus ikatan batin terhadap siswanya. Guru yang terbiasa dengan siswanya pasti tahu mana siswa yang layak lulus mana siswa yang masih harus belajar. Instrumen alamiah itu yang harus turut serta ketika seorang guru menilai.

Subjektivitas guru harus terlibat ketika ia memberi nilai berdasarkan skor-skor objektif yang diperoleh siswa sebelumnya. Jadi sebagai guru mari kita NGAJI (Ngarang Biji) bersama. Tentunya ngarang berdasarkan skenario yang ada, bukan mengarang bebas. Begitu. (qureta.com)

Bagikan ke:

Komentar

komentar

Related posts

Leave a Comment