Mewujudkan Akses Pendidikan yang Meluas, Merata, dan Berkeadilan dalam Pendidikan Khusus di Indonesia

Bagikan ke:

LenteraEdukasi.com — Saya adalah seorang guru TKLB Global School Langsa. Saya melihat dalam perkembagan pendidikan khusus setiap daerah maupun kecamatan dan desa, belum meratanya pembagunan sekolah sehingga menyebabkan  anak berkebutuhan khusus tidak dapat terlayani secara optimal.

Dalam menyikapi hal ini, mungkin setiap orang berbeda cara pandangnya. Ada yang mengatakan pendidikan khusus kita sudah luas kok. Mungkin sudah luas, tapi apakah yakin sudah merata apalagi adil, khususnya pendidikan khusus. Sebagian orang berlomba-lomba dalam meningkatkan mutu pendidikan umum dari pada meningkatkan mutu pendidikan khusus di Indonesia.Terlebih lagi masalah yang dapat ditimbulkan adalah kurangnya tenaga guru ahli di bidang PLB di beberapa sekolah  luar biasa. Dan sebagian mayoritas yang mengajar anak berkebutuhan khusus backgraund guru yang bukan PLB yang mengajar anak tersebut. Pelaksanaan pembelajaran anak berkebutuhan khusus sangatlah penting.

Semestinya  pemerintah membangun TKLB, SDLB, SMPLB, SMALB, SMKLB, di setiap desa minimal di tiap kecamatan sehingga mempermudah akses masyarakat dalam mengantarkan anaknya ke sekolah. Pemerintah harus menjamin ketersediaan infrastruktur yang mendukung dan menyediakan alat media pembelajaran anak berkebutuhan khusus.

Menurut pendataan stastistik 2015/2016 jumlah SLB 1.962 Baik negeri dan swasta sedangkan menurut pendataan referensi Kemdikbud jumlah SLB negeri di Indonesia sebanyak 412, SDLB N 113 SWASTA 134, SMPLB N 20 SWASTA 103, SMALB N 22 SWASTA 87 jadi total keseluruhannya 2.186. Pemerintah daerah dan aparat desa pun perlu melakukan sosialisasi langsung ke masyarakat supaya mengatar anaknya ke sekolah.

Hal di atas memang  perlu dilakukan untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat, bahwa anak berkebutuhan khusus butuh yang namaya pendidikan khusus dan pelayanan khusus. Inilah yang penulis hadirkan sebagai hal yang ingin dihubungkan dengan tema tulisan kita tentang pendidikan khusus yang meluas, merata, dan berkeadilan.

Menurut hemat saya, ini sangatlah belum pantas untuk mengatakan pendidikan khusus kita yang merata dan berkeadilan. Sungguh sangat tidak sebanding. Menurut pendataan Ditjen PUM Kemendagri pada tahun 2015 provinsi di indonesia berjumlah 34, kabupaten 486 kecamatan 6.793 desa 72.944 kelurahan 81.253. Data ini tidak sebanding dengan jumlah sekolah luar biasa di Indonesia yang hanya 2.186 sekolah.

Memang ini bukanlah sepenuhnya salah yang disengaja oleh pemerintah. Ini murni hanya keterbatasan keuangan dan karena kondisi geografis negara kita yang berbeda-beda antara satu tempat dengan tempat yang lain. Pemerintah telah berupaya dengan sungguh-sungguh untuk perluasan dan pemerataan pendidikan khusus yang berkeadilan. Karena mutlaknya, semua yang dilakukan oleh negara itu akhirnya untuk kehidupan yang berkeadilan sosial bagi seluruh rakyatnya.

Meskipun pemerintah sudah menyediakan anggaran yang cukup besar, namun praktiknya anggaran tersebut masih kurang tepat sasaran pada penggunaan dan pengelolaannya. Selain itu masih kurang pula pengawasan penggunaan anggaran pendidikan tersebut baik dari pihak Kementerian Pendidikan & Kebudayaan, pemerintahan daerah, aparatur desa, sekolah dan LSM. Misalnya anggaran yang seharusnya lebih banyak dialokasikan untuk perawatan sarana dan parsarana penunjang sistem belajar mengajar, malah lebih banyak digunakan untuk kegiatan penerimaan peserta didik baru dengan pendanaan terbesar adalah konsumsi.

Jika terdapat kerjasama antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, aparatur desa, sekolah dan LSM dalam pengawasan anggaran pendidikan, tentu penggunaan anggaran dapat teralokasi pada hal yang benar-benar dibutuhkan oleh sekolah tersebut, karena pasti setiap sekolah memiliki prioritas pendanaan berbeda-beda (terutama antara sekolah di kota dengan di desa).

Selain dari peningkatan akses pendidikan melalui sarana dan prasarana penunjang sistem belajar mengajar, dibutuhkan pula tingginya tingkat kesadaran orang tua akan pentingnya pendidikan khusus. Untuk itu dibutuhkan juga peranan dari tokoh masyarakat dan LSM setempat dalam mensosialisasikan betapa pentingnya pendidikan.

Salah satu cara untuk mewujudkannya adalah pendidikan yang berkeadilan, pendidikan yang tidak lagi menjadi momok yang menakutkan bagi warganya. Pendidikan yang meluas, merata dan berkeadilan sesuai dengan amanat Undang Undang Dasar Negara Republik Indonesia. “mencerdaskan kehidupan bangsa”. Seharusnya Pemerintah dapat memberikan perlakuan yang sama kepada anak Indonesia tanpa diskriminasi, kalau bisa mendirikan SD Negeri, SMP Negeri, SMA Negeri untuk anak bukan ABK, maka juga harus berani mendirikan SDLB Negeri, SMPLB Negeri, dan SMALB Negeri bagi ABK.

Baiklah saya akan mencoba menjelaskan langkah-langkah untuk mewujudkan pendidikan yang meluas, merata dan berkeadilan di indonesia:

  1. Mendata sekolah-sekolah yang  rusak yang ada di indonesia. Sekolah-sekolah di Indonesia masih banyak yang rusak, oleh karena itu data tentang sekolah-sekolah yang rusak sangat penting bagi masyarakat indonesia, karena dengan data tersebut pemerintah bisa fokus dengan  data tersebut dan bisa menyelesaikan permasalahan yang ada di sekolah tersebut. Karena kalau sekolah bagus-bagus maka pendidikan indonesia akan bagus.
    Kementerian pendidikan dan kebudayaan Indonesia seharusnya memanfaatkan ASN yang ada  di setiap dinas pendidikan provinsi yang ada untuk mendata sekolah luar biasa yang bermasalah bangunannya.
  2. Melakukan peningkatan kualitas guru pendidikan khusus yang ada di desa-desa terpencil.
  3. Mengandeng perusahaan atau pengusaha yang ada di republik ini untuk memberikan dana bantuan sekolah luar biasa di daerah. Perusahaan-perusahaan asing  dan pengusaha yang ada di indonesia harus kita manfaatkan untuk kemajuan sekolah luar biasa yang ada di indonesia. Karena membangun pendidikan khusus  di indonesia harus merangkul semua pihak baik itu pemerintah maupun rakyat biasa.
  4. Memberikan beasiswa kepada siswa-siswi yang kurang mampu di daerah terpencil, terdepan dan  terluar di Indonesia. Memberikan kesempatan  kepada setiap anak Indonesia untuk terus melanjutkan sekolahnya. Angka putus sekolah luar  biasa tinggi di Indonesia. Jadi kita harus mendukung mereka untuk masuk sekolah luar biasa agar angka putus sekolah di Indonesia menurun.
  5. Membangun SMKLB di daerah maupun desa agar mereka semangat untuk berkerja setelah tamat sekolah seperti anak tuna rungu bisa di ajarkan informatika komputer dan bagi anak tuna grahita ringan bisa diajarkan perabotan lemari, kursi dan sebagainya sehingga tidak membebankan kedua orang tuanya.

Dengan kata lain meratanya akses pendidikan akan mendongkrak kemajuan suatu negara. Distribusi guru menjadi persoalan dunia pendidikan khusus  kita saat ini. Akses pendidikan juga tak kalah penting dalam pemerataan dunia pendidikan kusus.

Berdasarkan uraian di atas, anak memiliki hak sama untuk mendapatkan  pelayanan pendidikan sesuai dengan tujuan pendidikan nasional. Oleh karena itu marilah kita membangun pendidikan khusus bersama-sama tanpa membedakan anak antara satu dengan yang lain.

Penulis: Annafi Al Mutaali (Kepala Sekolah TKLB Global School Langsa)
Sumber: goaceh.co

Bagikan ke:

Komentar

komentar

Related posts

Leave a Comment