Maman Supratman, Guru Honorer Selama 40 Tahun

Bagikan ke:

BEKASI, LenteraEdukasi.com — Maman Supratman, sosok laki-laki dengan postur tubuh tinggi dan kurus, menjadi terkenal ketika ia dinobatkan sebagai guru teladan yang mengabdi pada dunia pendidikan Indonesia. Meskipun hanya sebagai guru honor, namun Pak Maman telah menorehkan pengabdiannya selama 40 tahun. Kini ia berusia 77 tahun (1940-2017).

Awal mulanya Pak maman dikenal publik ketika seorang rekan sekerjanya bernama Sukamto, MPd mengunggah cerita tentang Pak Maman di akun facebooknya pada 25 November 2014. Kisah Pak Maman tersebut menjadi viral. Hingga pada Selasa (11 Juli 2017) sudah sebanyak 7.646 dibagikan (share) dan 24.062 disukai (like). Saat ini Pak Maman masih mengajar sebagai guru honor (guru kesenian dan budaya) di SMP Negeri 17 Bekasi. Pak Sukamto adalah rekan kerjanya yang mengajar Bahasa Indonesia.

Pak Maman saat ini mengajar musik tradisional di SMPN 17 Bekasi. Kemampuannya bermusik didapatnya secara otodidak. Setelah keluar sebagai karyawan di pabrik kertas pada tahun 1970, dia pergi ke daerah Jatiluhur, Jawa Barat. Dia melihat banyak bambu hitam di daerah itu dan berinisiatif membuat alat musik angklung.

“Saya akhirnya bisa membuat alat musik arumba, angklung, dan kulintang,” katanya.

Sementara, kemampuannya di bidang fisika diperolehnya saat menempuh kuliah B1 IPA setara diploma satu pada tahun 1960 di Institut Teknologi Bandung (ITB).

Maman mengisahkan, saat dia pertama kali mengajar di sekolah ini tidak ada teknisi gedung.

“Saya merangkap di bagian gedung dan listrik karena tidak ada orang,” ujarnya.

Ketika upacara bendera di sekolah pada hari Senin, Maman juga menjadi pengiring lagu Indonesia Raya.

“Pak Maman mengiringi dengan organ. Dia tidak pernah terlambat,” kata guru mata pelajaran bahasa Indonesia, Sukamto. Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Anies Baswedan pernah menyampaikan apresiasi kepada Maman. Menurut dia, Maman dapat dijadikan teladan bagi para peserta didik.

“Apa yang dikerjakan Pak Maman ini dihargai berapa pun tidak ternilai karena kemuliaan itu tidak bisa dirupiahkan,” katanya saat berkunjung ke SMPN 17 Kota Bekasi, Jawa Barat. (Agung SW/Pusat Informasi dan Humas Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan)

 

 

Bagikan ke:

Komentar

komentar

Related posts

Leave a Comment